Memang mengantri itu butuh kesabaran. Dari yang sabar nya biasa saja, sedang, sampai yang berat. Mungkin kalau antrian dengan memerlukan kesabaran biasa saja, masih bisa dihadapi dengan tersenyum.
Tapi, justru ini tantangan nya di mana kita harus tersenyum di saat antrian yang harus dihadapi dengan kesabaran tahap sedang sampai berat.
Hari ini saya punya pengalaman menarik, mungkin ini hanya antrian dengan tahap kesabaran biasa saja, soalnya saya masih bisa tersenyum.
Tadi saya belanja keperluan bulanan di supermarket, setelah selesai memilih milih barang, saya mengantri di belakang seorang ibu dengan keranjang super penuh. Kemungkinan ibu itu mempunyai toko yang akan menjual kembali belanjaan nya secara eceran. Ada coklat, permen, kue kering, susu kaleng, susu kemasan, dan masing masing berpuluh puluh jumlahnya. Sebenarnya kalau membeli beberapa jenis meskipun jumlahnya banyak tidak akan memakan waktu lama waktu di kasir, tetapi yang bikin lama adalah barang tersebut harus di masukkan ke dus masing masing dengan dibungkus plastik terpisah pisah, dan diberi tanda segala yang saya tidak mengerti maksudnya. Karena nya di kasir jadi banyak petugas supermarket yang berkumpul untuk membantu kelancaran pengepakan.
Saya mau pindah ke antrian kasir lain, tanggung, sebelah sebelah sudah penuh juga. Akhirnya, menunggulah saya dengan kesabaran yang biasa dan tersenyum ngobrol dengan suami saya.
Tapi, ternyata capek juga ya harus tersenyum sedangkan kaki pegal? Akhirnya saya mulai sedikit cemberut karena kasir kasir di kiri kanan sudah melayani 3 pembeli, sedangkan di kasir kami baru ibu itu saja. Sudahlah, tanggung pikir saya antri saja tokh barang di keranjang ibu itu udah tinggal sepertiga nya? Hmm…dengan menggerak gerak kan kaki kiri kanan supaya gak kesemutan, saya mulai menghitung barang belanjaan ibu itu…tinggal 10 barang nih…tinggal 9 barang nih….8…7….6….DAN TIBA TIBA……dari arah belakang saya, ada suara mendekat dan memanggil ibu itu begini bunyinya : “ Mami, ini masih ada lagi…” Kontan saya menoleh, dan ternyata seorang anak usia belasan sambil mendorong SATU KERANJANG PENUH yang penuh nya sama kayak yang di bawa ibu itu tadi. Dengan cuek nya dan mungkin di tebal tebal in juga ya mukanya, sang ibu menjawab panggilan anaknya “Sini cepat, biar dihitung sekalian”
OOOUW….GUBRAK….kayaknya saya mau pingsan aja deh. Jadi lupa deh untuk tersenyum. (elizatri)
http://www.yournaturalmedicine.com/acupuncture%20medicine5.htm